Uncategorized

TERSERAH

“Jika kamu boleh melarang satu kata untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari, kata apakah itu?”

Bagi saya, kata itu adalah “Terserah”. Kata terserah sering turut nimbrung dalam percakapan yang melibatkan topik memilih sesuatu hal. Seperti memilih lokasi untuk hangout, waktu dan tanggal bukber, atau ketika seorang pria menanyakan kepada sang kekasih tempat apa yang mau didatangi untuk makan siang. 

Ada beragam alasan kenapa kata terserah akhirnya menjadi kosakata yang dipilih seseorang untuk diucapkan. Bisa karena bingung mau memberikan suatu pendapat atau opini, atau memang hanya malas berfikir untuk mengikutsertakan sebuah gagasan. Namun terkadang, kata terserah juga bisa saja tidak berarti “terserah” pada umumnya, yang mana merujuk kepada persetujuan akan keputusan atau pilihan yang diambil oleh pihak lain yang terlibat. Tapi terkadang, seseorang yang berkata terserah juga menyembunyikan sebuah gagasan  dibalik kata itu, dan celakanya, kadang mereka berharap lawan bicara mereka mengerti ada definisi apa yang tersembunyi pada kata tersebut, dan celakanya lagi, mereka kemudian merajuk, ketika kata terserah yang mereka ucapkan pada akhirnya dianggap sebagai sebuah kata terserah yang semestinya. Tanpa mereka sadari, tidak ada keharusan bagi seseorang untuk tahu bahwa terserah bisa beranak-pinak menjadi beragam makna. 

Andai kata terserah ini pada akhirnya hilang dari opsi pemilihan kata, mungkin proses komunikasi antar sesama manusia akan lebih mudah. Tidak akan ada seseorang yang merasa terbebani untuk mengambil keputusan sambil menimbang apakah keputusan yang nantinya diambil bisa memuaskan orang-orang yang sebelumnya berucap kata “terserah”. Selain itu, akan berkurang pula jumlah orang yang pada momen-momen tertentu dituntut menjadi makhluk berkekuatan super yang memiliki kemampuan membaca fikiran, saat sebuah kata terserah menuntut untuk ditaklukkan.

Jadi, ketika pada suatu ketika kalian diharuskan untuk melontarkan sebuah ide, menentukan suatu pilihan, atau mengajukan sebuah usulan, berikan saja sebuah ide, bahkan yang terburuk sekalipun. Karena sebuah ide yang buruk, bisa lebih baik daripada tidak memberikan kontribusi apapun, dan lebih baik pula ketimbang kalian berlindung di balik sebuah kata; Terserah.

Kenapa saya membahas topik ini? Tidak ada alasan tertentu, tapi berhubung file PDF yang saya unduh tentang ide menulis untuk satu tahun mengusulkan saya topik yang saya tulis di awal, jadilah akhirnya tulisan ini tercipta. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi. 

1 thought on “TERSERAH”

  1. Wah signifikan sekali pengaruhnya buku pdf yang didownload, ya. Akhirnya tercipta 1 tulisan baru. Setelah sekian lama blog ini blm diupdate.

    Mudahan konsisten update blognya hehe ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *