Uncategorized

TUHAN, MOHON MAAF LAHIR & BATIN

Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Saya mohon maaf, bila dalam bulan yang mengobral keberkahan ini lebih banyak saya habiskan dengan menunggu. Iya, menunggu. Menunggu adzan maghrib lebih tepatnya.Padahal bukankah esensi bulan Ramadhan itu bukan hanya puasa dan berbuka, tapi apa yang kita lakukan di antaranya.

Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Ternyata saya belum kuat mengekang hawa nafsu. Buktinya ketika buka puasa, walaupun tau resikonya, saya tetap memakan makanan sekenyang-kenyangnya, ketimbang secukup-cukupnya. Saya sakit perut, tidak hadir  Shalat Tarawih. Padahal Shalat Tarawih kan rutinitas langka. Yang harus ditunggu lagi, berbulan-bulan lamanya.
Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Untuk urusan mengontrol godaan, saya memang belum ahlinya. Sekali dua kali, saya tergoda untuk tidur setelah sahur. Ketika bangun, waktu Sholat Subuh ternyata sudah habis. Padahal jarak sirine Imsak dan kumandang adzan Subuh itu sebentar. Hanya 10 menit. Namun belum sampai sepuluh menit, saya terkalahkan.

Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Bulan puasa saya jadi berkesempatan bertemu sahabat-sahabat, yang baru atau lama, dalam acara Buka Bersama. Namun sayangnya, ketika bukber, ada kalanya Shalat Maghrib jadi terpinggirkan. Gara-gara terlalu asyik bercengkrama, atau menyemarakan sosial media.

Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Ramadhan adalah bulannya bersyukur, tapi saya masih saja sering mengumbar keluhan. Entah itu untuk makanan untuk berbuka yang dirasa biasa saja, atau menyalahkan puasa atas badan yang menjadi lemah tak bertenaga. Padahal di luar sana, banyak yang menjadikan puasa adalah rutinitas wajar sehari-hari. Karena keterbatasan ekonomi atau alasan lainnya. Padahal di luar sana pula, ada saja yang berbuka puasa, hanya dengan doa.
Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Karena pada bulan Ramadhan tahun ini, saya belum sukses menjadi sederhana. Saya masih tergoda membeli baju untuk hari raya, lebih dari seharusnya. Padahal bulan puasa, adalah momen yang pas untuk menjadi sederhana. Tapi sayangnya, sering kali terlupakan karena iklan dan potongan harga.
Tuhan, Mohon Maaf Lahir & Batin. Saya masih memerlukan bulan Ramadhan. Jadi bila Engkau berkenan, pertemukan kami lagi tahun depan. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *