Uncategorized

TOPIK PERTAMA: KOMENTAR

Apa yang lebih menarik ketimbang membaca berita di portal berita online, nonton video di youtube, atau memandang foto-foto di Instagram? Ada, yaitu membaca komentar-komentar yang menyertainya. Kita sekarang ada di masa tingkat kebebasan untuk berpendapat itu sangat luas.Kita dapat menyampaikan saran, opini, pujian, kritik, atau bahkan hinaan dengan begitu mudahnya. Menurut saya, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya komentar negatif di sosial media. Faktor-faktor itu adalah usia, kedekatan emosional, dan identitas.

1. Usia

Bila kita lihat, banyak sekali komentar di sosial media yang (sepertinya) berasal dari anak kecil atau remaja. Usia yang memang sudah sewajarnya bila belum memiliki kedewasan untuk berfikir panjang akan konsekuensi dari komentar atau hal-hal yang mereka tampilkan di sosial media. Terkait fenomena ini, peran serta orang tua untuk mengajarkan bagaiman etika bersosial media yang benar sangat diperlukan. Jangan sampai orang tua hanya tahu memberikan gadget kepada anak tanpa adanya bekal pengetahuan atau pengawasan kepada anak tersebut.

 

2. Kedekatan Emosional

Salah satu faktor lain kenapa banyak sekali komentar-komentar pedas berseliweran di dunia maya adalah karena antar warganet merasa mereka tidak memiliki kedekatan emosional, atau dengan kata lain mereka merasa satu sama lain adalah orang asing. Dan sayangnya, kadang ini menyebabkan mereka merasa bebas untuk memberikan komentar, tanpa peduli bagaimana perasaan orang yang menjadi sasaran komentar mereka. Kita tidak pernah tahu juga dampak apa sebenarnya yang bisa ditimbulkan oleh sebuah komentar terhadap psikis seseorang. Bisa saja seseorang yang terlihat tegar atau cuek terhadap komentar negative yang ditujukan padanya sebenernya dalam hatinya tetap merasa depresi atau tersinggung. Ingat, apa yang ditampikan seseorang di sosial media belum tentu menggambarkan perasaan sebenarnya dari orang tersebut.

 

3. Identitas

Saat membuat akun media sosial, ada pihak pihak yang membuat akun tanpa menyertakan identitas asli. Ini membuat segelintir orang leluasa untuk berkomentar atau bahkan menyebarkan berita hoax dengan menggunakan identitas palsu. Padahal, semakin berkembang teknologi semakin berkembang pula kemampuan pihak berwajib untuk melacak para penyebar konten atau komentar negatif di dunia maya. Itu dibuktikan dengan semakin banyaknya kasus terkait dunia ITE yang diungkap. Ini seharusnya membuat kita untuk selalu berfikir matang-matang dulu sebelum berkomentar, berbagi konten, atau menyebarkan informasi saat menggunakan internet.

Karena bukankah Negara kita dikenal dengan Negara yang ramah dan murah senyum? Dan alangkah baiknya karakter itu terus kita pertahankan, tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam arisan blog yang diadakan oleh Pena Blogger Banua, komunitas Blogger Banjarmasin, yang kalian bisa tengok tulisan-tulisannya di sini, Website Karya Anak Banua. Sekian. Terima Kasih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *