Uncategorized

ISSUE NO.6: PANTUN

‚ÄčKalian pernah nemu pantun gak sih? Mungkin di buku favoritmu, majalah favoritmu, atau mungkin blog favoritmu?

Pantun. Kalo ngomongin pantun, yang pertama-tama terlintas di fikiran gue adalah Indra Jegel, komika yang di awal penampilannya sering menggunakan pantun dengan sampiran yang isinya petir bukan sembarang petir. Hal kedua yang gue ingat adalah sambutan di acara nikahan. Di beberapa nikahan yang gue temui rata-rata sambutan dari pihak mempelainya selalu menyelipkan pantun, sampe gue mikir, ini di nikahan gue nanti bakal ada adu pantun juga gak sih. Tapi sepertinya sebelum gue memikirkan seberapa banyak pantun di acara gue, gue harus memikirkan dengan perwakilan keluarga mana perwakilan keluarga gue nanti akan berbalas pantun. Pertanyaan yang masih belum dapat gue jawab sampai sekarang.

Kalo ngomongin penerapan dalam kehidupan sehari-hari, pantun adalah hal yang gue pelajari namun sepertinya tidak pernah gue terapkan di kehidupan sehari-hari, selain untuk tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia tentu saja. Padahal menurut gue, gue merasa cukup jago bikin pantun. Gue dulu suka kalo disuruh bikin pantun buat tugas sekolah. Dari berbagai jenis pantun, menurut gue yang paling sulit adalah pantun teka teki, karena jaman dulu gue gak punya banyak stok teka teki dan teknologi Google, gue gak tau udah ada apa gak, kalau pun ada, yang jelas belum nyampe ke kampung gue dulu. Kalo udah ketemu, gue juga harus meramu teka-teki itu agar bisa tersampaikan dalam dua baris isi dalam pantun. Iya, pada momen itu gue sadar, bikin nasehat jauh lebih gampang ketimbang bikin teka-teki. 

Untuk nostalgia dengan masa lalu, gue memutuskan untuk bikin sejumlah pantun yang mewakili sejumlah keresahan gue dalam tulisan ini.  Jadi.

Ada ikan di semak-semak

Silahkan disimak



1)

Luka tersayat sebilah parang

Sakit terasa tidak terperi

Alangkah hebat manusia sekarang

Bercengkrama bukan di mulut, tapi di jari

Pantun ini tentang orang-orang jaman sekarang yang kawanya lebih banyak berkomunikasi lewat jari. Sudah fenomena umum kayanya kalo liat orang pada ngumpul tapi masing-masing malah sibuk sama handphone masing-masing. Walaupun kemajuan teknlogi ini tujuan utamanya untuk memudahkan orang berkomunikasi, tapi kadang malah bikin kemampuan dan kemauan kita untuk berkomunikasi dengan orang sekitar jadi berkurang. Gak jauh jauh deh, kalo keluarga gue pada ngumpul, para orang-orang tua pasti asyik ngobrolin ini itu. Sedangkan gue sama sepupu-sepupu gue kebanyakan sibuk sama smartphone masing-masing dan gak banyak ngobrol. Sekalinya ngobrol, di chat, haha
2)

Hujan mengguyur dengan derasnya

Air menggenang semata maki

Bila kau temu orang bertanya

Baik di jawab jangan dimaki

Gaya komunikasi netizen di kolom-kolom komentar di sosial media itu menarik. Salah satu hal yang gue amati belakangan ini adalah seringnya orang yang nanya di sosmed itu dibentak-bentak dan dikata-katain. Padahal kan kadang orang yang nanya di situ bener-bener karena dia gak tau dan pengen nyari info aja. Ya, walaupun ada juga yang nanya dengan niat becanda tapi kan gak semuanya kaya gitu. Kalo emang orang yang bener-bener nanya ya dikasih jawaban aja. Gak perlu deh kayanya dikata-katain segala. Kan fungsi utama kolom komentar memang untuk netizen saling berkomunikasi, bukan sekedar jualan obat pelangsing, peninggi, pembesar, pelebar, dan sebangsanya.
3)

Ummi ke pasar membeli ikan

Keranjang belanja tak lupa dibawa

Jangan kesopanan kau pinggirkan

Hanya sekedar tuk mencari tawa

Kalo ini tentang konten youtube yang kemarin pernah dibikin sama salah satu channel youtube. Isi kontennya adalah tiga komika yang ngebahas tiga perempuan terjelek menurut mereka. Dan di video itu mereka bener-bener nyebut tiga perempuan terjelek menurut mereka. Walaupun tujuannya buat lucu-lucuan, bagi gue sih gak lucu dan udah keterlaluan ya. Dan kayanya banyak netizen juga yang keberatan dengan konten yang mereka bawakan dan sepertinya videonya sudah hilang sekarang. Semoga bisa jadi pelajaran aja sih, kalo gak semua hal bisa jadi objek becandaan.
4)

Di tengah laut menangkap gurita

Dibawa ke darat dengan kereta

Mari bijak berbagi berita

Jangan sampai menuai dusta

Jaman sekarang sih siapa aja bisa bikin berita cuma modal kouta doang. Jadi kita yang nerima berita aja nih yang harus bener-bener memilah berita. Jangan baru dapat info dikit, langsung nyebar ke grup wasap. Kan jadi pengen ngekick, tapi gak enak. Hhe.

Tulisan ini diikutsertakan dalam arisan blog yang diadakan oleh Pena Blogger Banua, komunitas Blogger Banjarmasin, yang kalian bisa tengok tulisan-tulisannya di sini, Website Karya Anak Banua. Sekian. Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *